|

Kabar Terbaru

MAU IKUT PERAYAAN TAHUN BARU ?


Beberapa hari lagi kita akan menyaksikan perayaan besar, perayaan yang dilangsungkan oleh masyarakat di seluruh dunia. Ya, itulah perayaan tahun baru yang secara rutin disambut dan dimeriahkan dengan berbagai acara dan kemeriahan.Perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang, namun banyak di antara orang-orang yang merayakan malah tidak tahu alasan dan latar belakang perayaan itu. Nh, bagaimanakah sejarah perayaan tahun baru masehi itu ?

Sejarah Tahun Baru Masehi 

Sejak Abad ke-7 SM bangsa Romawi kuno telah memiliki kalender tradisional. Namun kalender ini mengalami beberapa kali revisi. Zaman Romawi kuno, penanggalan bulan hanya 10 bulan. Adapun dua bulan sisanya adalah musim dingin yang membuat mereka tidak bisa bertani, oleh karena itu sebab tidak dimasukan dalam hitungan kalender. Nama bulan pada masa itu antara lain: Martius , Aprilis , Maius , Junius, Quintilis, Sextilis , Septalis , Octolis., Novelis dan Decemberis.
Bulan pertamanya adalah bulan Martius (Maret) sebagai penghormatan kepada Dewa perang Martius atau Mars, sekaligus perayaan hari militer Besar kerajaan Romawi kuno.

Pada pada Tahun 45 SM Kaisar Julius Caesar mengganti kalender tradisional ini dengan Kalender Julian . Jumlah bulannya menjadi 12, dengan penambahan bulan Januarius (Januari) dan Februarius (februari). Dalam kalender baru ini, penanggalannya dimulai dengan bulan Januari sebagai penghormatan kepada Dewa Janus, yang merupakan nama dewa pintu dalam mitologi Romawi kuno. Sementara Februari, diambil dari bahasa Latin, Februus, yang merupakan nama dewa kematian dan penyucian, sehingga pada bulan ini bangsa Romawi kuno melakukan upacara penyucian.

Dengan penambahan dua bulan itu maka urutan bulan orang Romawi menjadi  : Januarius ( 31 hari), Februarius (29 / 30 hari), Mart (30 hari), Aprilis (30 hari), Meius (31 hari), Junius (31 hari), Julius (31 hari), Sestilis (30 hari), Septembre (30 hari), Oktobre (, 30 hari), Novembre (31 hari), Decembre (30 hari).

Namun pada tahun 44 SM, Julius Caesar mengubah nama bulan “Quintilis” dengan namanya sendiri, yaitu “Julius” (Juli). Selanjutnya pengganti Julius Caesar, yaitu Kaisar Augustus, mengganti nama bulan “Sextilis” dengan nama bulan “Agustus”. Sehingga setelah Junius, masuk Julius, kemudian Agustus, sehingga nama bulannya menjadi Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, Nopember dan Desember.

Kalender Julian ini selanjutnya digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga Tahun 1582 M. Pada tahun 1582 M Kalender Julian diganti dengan Kalender Gregorian (Masehi). Dinamakan Gregorian karena Dekrit rekomendasinya dikeluarkan oleh Paus Gregorius XIII. 

Dalam kalender baru ini (Kalender Gregorian), Paus Gregorius XIII melakukan gebrakan dengan merubah jumlah hari dalam kalender Julian. Hasil dari perubahan itu adalah seperti berikut: Januari (31 hari), Februari (biasa 28 hari / kabisat 29 hari), Mart (31 hari), April (30 hari), Mei (31 hari), Juni (30 hari), Juli (31 hari), Agustus (31 hari), September (30 hari), Oktober (31 hari), November (30 hari), Desember (31 hari).

Pada Tahun 1582 M ini Paus Gregorius XIII juga menetapkan bahwa Perayaan Tahun Baru yang awalnya dulu dimulai dari Maret nerubah menjadi tanggal 1 Januari. Dan hingga kini, semua orang di seluruh dunia merayakan Tahun Baru mereka pada tanggal 1 Januari.


Ada Apa dengan Perayaan Tahun Baru Masehi ?

Dari kisah di atas, sebenarnya sudah dapat diketahui bahwa perayaan tahun baru pada bulan januari pertama kali dilakukan oleh orang Romawi kuno. Perayaan ini dilakukan sebagai persembahan kepada dewa Janus. Dewa Janus yaitu dewa bermuka dua, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus ini merupakan dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru. Kenyataan itu sebenarnya telah disebutkan dalam sebuah buku yang berjudul  “The World Book Encyclopedia”. Dalam buku itu dikatakan bahwa :
“The Roman ruler Julius Caesar established January 1 as New Year’s Day in 46 BC. The Romans dedicated this day to Janus , the god of gates, doors, and beginnings. The month of January was named after Janus, who had two faces – one looking forward and the other looking backward.

Artinya :

Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke 46 SM (Sebelum Masehi). Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah – sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap ke (masa) lalu.

Gambar Patung Dewa Janus
http://id.wikipedia.org


Berbeda dengan orang Romawi yang merayakan tahun baru sebagai perayaan kepada Dewa Janus. Bagi orang Persia yang beragama Majusi (penyembah api), tanggal 1 Januari merupakan hari raya mereka. Hari raya itu dikenal dengan hari Nairuz atau Nurus. Kaum Majusi meyakini, bahwa pada tahun baru itulah, Tuhan menciptakan cahaya sehingga memiliki kedudukan tinggi.

Cara yang dilakukan orang-orang majusi untuk merayakan hari raya ini adalah dengan menyalakan api dan mengagungkannya. Mereka berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, mereka bercampur baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan khomr (minuman keras). Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam.

Haruskan Seorang Muslim Mengikuti Perayaan Tahun Baru Masehi?

Nah, sekarang kita tau kan apa itu tahun baru masehi dan sejarahnya. Dari kisah-kisah di atas dapat kita ketahui bahwa tradisi perayaan tahun baru pada tanggal 1 januari merupakan perayaan yang sangat erat kaitannya dengan ritual keagamaan dan budaya dari orang-orang non-Muslim. Perayaan tahun baru (1 januari) bukanlah tradiri umat Islam.

Pada mulanya perayaan tahun baru Masehi yang jatuh pada tanggal 1 januari adalah pengagungan kepada DEWA JANUS, yang kemudian diadopsi oleh orang Kristen menjadi perayaan resmi mereka setelah agama Kristen menjadi agama resmi Kerajaan Romawi.

Jadi apakah kita sebagai kaum muslim masih mau ikut merayakannya?


Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai (mengikuti) suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”. (HR. Ahmad dan Abu Daud)



’Abdullah bin ’Amr radhiyallâhu ’anhu berkata :


من بنى ببلاد الأعاجم وصنع نيروزهم ومهرجانهم ، وتشبه بهم حتى يموت وهو كذلك حُشِر معهم يوم القيامة

”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kâfir, meramaikan peringatan hari raya nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.” [Sunan al-Baihaqi ].
wallahu a'lam bish shawab.


Disarikan dari berbagai sumber.


Tidak ada komentar